Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Aceh Utara disebut Luhak,
yang dikepalai oleh Kepala Luhak sampai tahun 1949. Kemudian, setelah
Belanda mengakui kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar
pada 27 Desember 1949, dibentuklah Negara Republik Indonesia Serikat
(RIS) dengan beberapa negara bagian. Salah satunya adalah Negara Bagian
Sumatera Timur, Aceh dan Sumatera Utara tergabung didalamnya dalam
Provinsi Sumatera Utara.
Kemudian melalui Undang-Undang Darurat nomor 7 tahun 1956 tentang
pembentukan daerah otonom setingkap kabupaten di Provinsi Sumatera
Utara, maka dibentuklah Daerah Tingkat II Aceh Utara.
Keberadaan Aceh dibawah Provinsi Sumatera Utara menimbulkan rasa
tidak puas masyarakat Aceh. Para tokoh Aceh menuntut agar Aceh berdiri
sendiri sebagai sebuah provinsi. Hal ini juga yang kemudian memicu
terjadinya pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)
pada tahun 1953.
Pemberontakan ini baru padam setelah keluarnya Keputusan Perdana
Menteri Republik Indonesia Nomor 1/Missi/1957 tentang pembentukan
Provinsi daerah Istimewa Aceh dan Aceh Utara sebagai salah satu daerah
Tingkat dua, Bireuen masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara. (Iskandar
Norman).
Konon saat jatuhnya Yogyakarta ibukota RI kedua masa agresi 1948,
Presiden RI Soekarno hijrah ke 'Kota Juang', Bireuen, menginap di rumah
kediaman Panglima Divisi X Bireuen (Pendopo Bupati Bireuen) sekarang.
Selama seminggu Presiden RI di Bireuen selama itu pula Bireuen jadi
ibukota RI dalam keadaan darurat.
Presiden Soekarno sempat foto bersama di depan rumah Panglima
Divisi X dengan Gubernur Militer Aceh Tgk. Daud Beureueh, Panglima
Divisi X Kolonel Hussein Joesoef dan sejumlah perwira Divisi X
Komandemen Sumatera 16 Juni 1948. Masa itu pusat kemiliteran Aceh Divisi
X Komandemen Sumatera, Langkat dan Tanah Karo di bawah pimpinan
Panglima Kolonel Hussein Joesoef berdudukan di Bireuen dengan markas
persenjataan militer dipusatkan di Juli Keude Dua, tiga setengah
kilometer jaraknya dari Kota Bireuen.
Mayor Purn M Yusuf Ahmad, 88, veteran pejuang angkatan '45 warga
Juli Keude Dua, salah seorang saksi hidup dan mantan Komandan Pasukan
Tank Divisi X di Medan Area dalam bincang-bincang dengan Waspada, pekan
lalu mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai
jasa pahlawannya.
Peringatan 63 tahun Indonesia Merdeka di Bireuen terkesan sebagai
seremoni belaka. Pasalnya, tak pernah menziarahi makam pahlawan
lantaran Bireuen belum memiliki Taman Makam Pahlawan (TMP).
Dikatakan, para pejuang yang gugur dalam pertempuran di Medan
Area masa itu jenazahnya tak mungkin dibawa pulang ke Bireuen. Ada yang
dimakamkan di TMP Binjai ada pula yang dimakamkan di TMP Langsa, Aceh
Timur. Para pejuang yang dimakamkan di TMP Langsa yang masih diingat,
Geuchiek Mahmud Juli Blang Keutumba, Tgk. M. Yusuf Arifin, ujar Mayor
Purn Yusuf Ahmad.
Sedangkan Panglima Divisi X Kolonel Hussein Joesoef yang berjasa
dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan meninggal karena
sakit lanjut usia tahun 1976 dimakamkan di Desa Glumpang Payong,
Kecamatan Jeumpa, berdampingan dengan istrinya Letda Puen Ummi Salmah.
Menurut M. Yusuf Ahmad lokasi pemakaman Panglima Husein Joeosoef
sebaiknya dijadikan sebagai lokasi TMP 'Kota Juang' Bireuen, agar setiap
peringatan hari Proklamasi dapat diziarahi oleh generasi penerusnya .
(Waspada online)
Daerah pecahan Aceh Utara ini juga dikenal sebagai kota juang.
Beragam kisah heroik terekam dalam catatan sejarah. Benteng pertahanan
di Batee Iliek merupakan daerah terakhir yang diserang Belanda yang
menyisakan kisah kepahlawan pejuang Aceh dalam menghadapi Belanda.
Kisah heroik lainnya, ada di kubu syahid lapan di Kecamatan
Simpang Mamplam. Pelintas jalan Medan-Banda Aceh, sering menyinggahi
tempat ini untuk ziarah. Di kuburan itu, delapan syuhada dikuburkan.
Mereka tewas pada tahun 1902 saat melawan pasukan Marsose, Belanda.
Kala itu delapan syuhada tersebut berhasil menewaskan pasukan
Marsose yang berjumlah 24 orang. Namun, ketika mereka mengumpulkan
senjata dari tentara Belanda yang tewas itu, mereka diserang oleh
pasukan Belanda lainnya yang datang dari arah Jeunieb. Kedelapan pejuang
itu pun syahid. Mereka adalah : Tgk Panglima Prang Rayeuk Djurong
Bindje, Tgk Muda Lem Mamplam, Tgk Nyak Bale Ishak Blang Mane, Tgk
Meureudu Tambue, Tgk Balee Tambue, Apa Sjech Lantjok Mamplam, Muhammad
Sabi Blang Mane, serta Nyak Ben Matang Salem Blang Teumeuleuk. Makan
delapan syuhada ini terletak di pinggir jalan Medan – Banda Aceh,
kawasan Tambue, Kecamatan Simpang Mamplam. Makam itu dikenal sebagai
kubu syuhada lapan.


0 komentar:
Posting Komentar