Kabupaten Bireuen dalam catatan sejarah dikenal sebagai daerah
Jeumpa. Dahulu Jeumpa merupakan sebuah kerajaan kecil di Aceh. Menurut
Ibrahim Abduh dalam Ikhtisar Radja Jeumpa, Kerajaan Jeumpa terletak di
di Desa Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen.
Secara geografis, kerajaan Jeumpa terletak di daerah perbukitan
mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng
Peusangan di sebelah timur. Raja Jeumpa adalah putra dari Abdullah dan
Ratna Kumala. Abdullah memasuki kawasan Blang Seupeueng dengan kapal
niaga yang datang dari India belakang untuk berdagang. Dia memasuki
negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa.
Abdullah kemudian diterima oleh penduduk pribumi dan disediakan
tempat tinggal. Kesempatan itu digunakan oleh Abdullah untuk memulai
menjalankan misinya sebagai Da’i Muslim. Rakyat di negeri tersebut
dengan mudah menerima agama Islam karena tingkah laku, sifat dan
karakternya yang sopan dan sangat ramah.
Abdullah akhirnya dinobatkan sebagai menjadi raja dan Ratna
Keumala sebagai permaisuri di negeri Blang Seupeung tersebut. Raja
Abdullah kemudian menamakan negeri yang dipimpinnya itu dengan nama
“Jeumpa”. Sesuai dengan nama negeri asalnya yang bernama “Kampia”, yang
artinya harum.
Raja Abdullah mengatur strategi keamanan kerajaan dengan
mengadakan latihan perang bagi angkatan darat dan laut. Saat itu
angkatan laut merupakan angkatan perang yang cukup diandalkan, yang
dipimpin oleh seorang Laksamana Muda.
Raja Abdullah meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri
dan dua orang anak, yaitu Siti Geulima dan Raja Jeumpa. Setelah Raja
Jeumpa dewasa dia membangun benteng pertahanan di tepi Pantai, yaitu di
Laksamana (sekarang Desa Lhakmana-red). Raja Jeumpa kemudian memperistri
seorang putri anak Raja Muda yang cantik jelita, bernama Meureundom
Ratna, dari Negeri Indra ( kira-kira daerah Gayo). Menurut rentetan
sejarah, Meureudom Ratna masih ada hubungan keluarga dengan putri
Bungsu.
Kakak Raja Jeumpa, Siti Geulima dipinang oleh seorang Raja di
Darul Aman yang bernama Raja Bujang. Maka atas dasar perkawinan itu
antara Kerajaan Jeumpa dengan Darul Aman ( sekarang Peusangan Selatan )
terjalin hubungan lebih erat. Sesuai dengan namanya “Darul Aman” yakni
negeri yang aman sentosa..
Kerajaan Jeumpa pernah diperangi oleh pasukan Cina, Thailand dan
Kamboja. Mereka pernah menduduki benteng Blang Seupeung. Disebutkan,
peperangan tersebut terjadi karena Raja Cina menculik permaisuri Raja
Jeumpa yang cantik jelita, Meureudom Ratna. Permaisuri Raja Jeumpa itu
berhasil mereka bawa kabur sampai ke Pahang (Malaysia). Namun kemudian
Meureudoem Ratna berhasil dibawa kembali ke Blang Seupeueng. Setelah
Panglima Prang Raja Kera yang berasal dari Ulee Kareung , Samalanga,
berhasil mengalahkan Raja Cina. Pada awal tahun 1989 dua pemuda Cina,
laki – laki dan perempuan mengunjungi makan Raja Jeumpa. Kepada sesepuh
desa mereka mengatakan berasal dari Indo Cina, Kamboja. Mereka sengaja
datang ke lokasi kerajaan Jeumpa untuk mencari tongkat nenek moyangnya
zaman dahulu. Konon tongkat emas Raja Cina tersebut jatuh dan hilang
saat menyerbu kerajaan Jeumpa, yang kemudian ditemukan oleh Raja Jeumpa.
Tidak diketahui persis riwayat berakhirnya masa kejayaan kerajaan
Jeumpa. Begitu juga dengan penyebab mangkatnya raja Jeumpa. Namun dari
cerita turun-temurun, masyarakat di sana meyakini pusara Raja Jeumpa
terdapat di atas sebuah bukit kecil setinggi 40 meter, yang ditumbuhi
pohon-pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun. Makam raja itu hanya
ditandai dengan batu-batu besar, yang berlokasi di dusun Tgk Keujruen,
Desa Blang Seupeueng. Sedangkan makam isterinya, Maureudom Ratna, berada
di Desa Kuala Jeumpa.
Sumber : http://acehpedia.org/Bireuen_Saat_Menjadi_Ibukota_Republik_Indonesia


0 komentar:
Posting Komentar